Tafsir
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Tafsir Ringkas Kemenag
Aku
memulai bacaan Al-Qur'an dengan menyebut nama Allah, nama teragung bagi
satu-satunya Tuhan yang patut disembah, yang memiliki seluruh sifat
kesempurnaan dan tersucikan dari segala bentuk kekurangan, Yang Maha
Pengasih, Pemilik dan sumber sifat kasih Yang menganugerahkan segala
macam karunia, baik besar maupun kecil, kepada seluruh makhluk, Maha
Penyayang Yang tiada henti memberi kasih dan kebaikan kepada orang-orang
yang beriman. Memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah
(basmalah) akan mendatangkan keberkahan, dan dengan mengingat Allah
dalam setiap pekerjaan, seseorang akan memiliki kekuatan spiritual untuk
melakukan yang terbaik dan menghindar dari keburukan.
Tafsir Tahlili
Surah al-Fātiḥah dimulai dengan Basmalah (بسم الله الرحمن الرحيم).
Ada
beberapa pendapat ulama berkenaan dengan Basmalah yang terdapat pada
permulaan surah Al-Fātiḥah. Di antara pendapat-pendapat itu, yang
termasyhur ialah:
1.
Basmalah adalah ayat tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala
masing-masing surah, dan pembatas antara satu surah dengan surah yang
lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari al-Fātiḥah atau dari surah yang
lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini pendapat Imam Malik beserta
ahli qiraah dan fuqaha (ahli fikih) Medinah, Basrah dan Syam, dan juga
pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut
Imam Abu Hanifah, Basmalah itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat,
bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
Hadis Nabi saw:
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: ḍصَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوْا
يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا يَذْكُرُوْنَ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي
آخِرِهَا». (رواه الشيخان واللفظ لمسلم)
Dari Anas bin Malik, dia
berkata, “Saya salat di belakang Nabi saw, Abu Bakar, Umar dan Usman.
Mereka memulai dengan al-ḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, tidak menyebut
Bismillāhirraḥmānirrahīm di awal bacaan, dan tidak pula di
akhirnya.”(Riwayat al-Bukhārī dan Muslim).
2. Basmalah adalah
salah satu ayat dari al-Fātiḥah, dan pada surah an-Naml/27:30, اِنَّهُ
مِنْ سُلَيْمَانَ وَاِنَّهُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
(النمل/27:30)
yang dimulai dengan Basmalah. Ini adalah pendapat Imam Syafi'i beserta ahli qiraah Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka Basmalah itu dibaca dengan suara keras dalam salat (jahar). Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu antara lain Hadis Nabi saw:
عَنْ
ابن عباس قال: كانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (رواه الحاكم فى المستدرك
وقال صحيح)
Dari Ibnu ‘Abbās, ia berkata, Rasulullah saw mengeraskan bacaan Bismillāhirrahmānirrahīm. (Riwayat al-Ḥākim dalam al-Mustadrak dan menurutnya, hadis ini sahih)
عَنْ
اُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ،
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ
يَوْمِ الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابو داود وابن خزيمة والحاكم وقال الدار
قطنى: سنده صحيح)
Dari
Ummu Salamah, katanya, Rasulullah saw berhenti berkali-kali dalam
bacaannya Bismillāhirrahmānirrahīm, al-Ḥamdulillāhi Rabbil- ‘Ālamīn,
ar-Raḥmānir-raḥīm, Māliki Yaumid-dīn. (Riwayat Aḥmad, Abu Dāud, Ibnu
Khuzaimah dan al-Ḥākim. Menurut ad-Dāruquṭnī, sanad hadis ini sahih).
Abu
Hurairah juga salat dan mengeraskan bacaan basmalah. Setelah selesai
salat, dia berkata, “Saya ini adalah orang yang salatnya paling mirip
dengan Rasulullah.”
Muawiyah
juga pernah salat di Medinah tanpa mengeraskan suara basmalah. Ia
diprotes oleh para sahabat lain yang hadir disitu. Akhirnya pada salat
berikutnya Muawiyah mengeraskan bacaan basmalah.
Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw telah sependapat bahwa penulisan Basmalah ada pada permulaan surah dari setiap surah Al-Qur’an, kecuali surah at-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw melarang menuliskan sesuatu yang bukan Al-Qur’an agar tidak bercampur aduk dengan Al-Qur’an, sehingga mereka tidak menuliskan ‘āmīn’ pada akhir surah al-Fātiḥah, maka Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain, bahwa “basmalah-basmalah” yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah ayat-ayat Al-Qur’an, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari al-Fātiḥah atau dari surah lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak.
Sebagaimana
disebutkan di atas bahwa surah al-Fātiḥah itu terdiri dari tujuh ayat.
Mereka yang berpendapat bahwa Basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari
al-Fātiḥah, memandang:
غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat al-Fātiḥah itu tetap tujuh.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dengan
nama Allah” maksudnya “Dengan nama Allah saya baca atau saya mulai”.
Seakan-akan Nabi berkata, “Saya baca surah ini dengan menyebut nama
Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab ia wahyu dari
Tuhan, bukan dari saya sendiri.” Maka Basmalah di sini mengandung arti
bahwa Al-Qur’an itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw dan
Muhammad itu hanyalah seorang Pesuruh Allah yang dapat perintah
menyampaikan Al-Qur’an kepada manusia.
Makna kata Allāh
Allah
adalah nama bagi Zat yang ada dengan sendirinya (wājibul-wujūd). Kata
“Allah” hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya,
yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka
tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang
lain.
Hikmah Membaca Basmalah
Seorang yang selalu membaca
Basmalah sebelum melakukan pekerjaan yang penting, berarti ia selalu
mengingat Allah pada setiap pekerjaannya. Dengan demikian ia akan
melakukan pekerjaan tersebut dengan selalu memperhatikan norma-norma
Allah dan tidak merugikan orang lain. Dampaknya, pekerjaan yang
dilakukannya akan berbuah sebagai amalan ukhrawi.
Seorang Muslim
diperintahkan membaca Basmalah pada waktu mengerjakan sesuatu yang baik.
Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa sesuatu yang dikerjakan
adalah karena perintah Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka
karena Allah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta
pertolongan agar pekerjaan terlaksana dengan baik dan berhasil.
Nabi saw bersabda:
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَمْ يُبْدَأْ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَقْطَعُ (رواه عبد القادر الرهاوي)
“Setiap
pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan menyebut Basmalah adalah
buntung (kurang berkahnya).” (Riwayat Abdul-Qādir ar-Rahāwī).
Orang
Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu dengan menyebut al-Lāta
dan al-‘Uzzā, nama-nama berhala mereka. Sebab itu, Allah mengajarkan
kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya, agar
mereka mengerjakan sesuatu dengan menyebut nama Allah.
0 Komentar